Di antara Fiqih Dakwah Ibnu Taimiyyah II

Contoh kasus lain yang disebut oleh Ibn Taimiyyah diantaranya:

1. Shalat qabliyah Jum’at. Ibnu Taimiyyah berkata (XXIV/194): “Jika seseorang berada di tengah suatu kaum yang melaksanakan shalat sunnat qabliyah Jum’at, jika ia adalah seseorang yang ditaati dan dituruti jika meninggalkannya, dan ia dapat memberi penjelasan kepada mereka tentang sunnah Rasulullah SAW yang sebenarnya tanpa mendapatkan pengingkaran dari mereka, bahkan justru mereka akan mengerti mana yang merupakan sunnah Rasulullah SAW, maka sebaiknya ia tidak

Lanjutkan membaca “Di antara Fiqih Dakwah Ibnu Taimiyyah II”

Di antara Fiqih Dakwah Ibnu Taimiyyah

Pergaulan di tengah masyarakat memerlukan ilmu agama (al-fiqhu fid-din), baik terkait fiqhul ahkam, maupun fiqhud-da’wah.

Secara sederhana, yang dimaksud fiqih ahkam adalah pemahaman terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah dan juga sumber-sumber mu’tabar lainnya, demi mendapatkan kejelasan tentang hukum sesuatu, adakah dia wajib, sunnat, mubah, makruh ataukah haram.
Lanjutkan membaca “Di antara Fiqih Dakwah Ibnu Taimiyyah”

Perkembangan Madzhab Asy-Syafi’i

Menurut Ibn Al-Subki bahawa Mazhab Al-Shafi’I telah berkembang dan menjalar pengaruhnya di merata-rata tempat, di kota dan di desa, di seluruh rantau negara Islam. Pengikut-pengikutnya terdapat di Iraq dan kawasan-kawasan sekitarnya, di Naisabur, Khurasan, Muru, Syria, Mesir, Yaman, Hijaz, Iran dan di negara-negara timur lainnya hingga ke India dan sempadan negara China. Penyebaran yang sebegini meluas setidak-tidaknya membayangkan kepada kita sejauh mana kewibawaan peribadi Imam Al-Shafi’i sebagai seorang tokoh ulama Lanjutkan membaca “Perkembangan Madzhab Asy-Syafi’i”

Makna Ijtihad

Definisi Ijtihad
Secara literal, kata ijtihâd merupakan pecahan dari kata jâhada, yang artinya badzlu al-wus‘i (mencurahkan segenap kemampuan). (Ar-Razi, Mukhtâr ash-Shihâh, hlm.114). Ijtihad juga bermakna, “Istafrâgh al-wus‘i fî tahqîq amr min al-umûr mustalzim li al-kalafat wa al-musyaqqaq.” (mencurahkan seluruh kemampuan dalam men-tahqîq (meneliti dan mengkaji) suatu perkara yang meniscayakan adanya kesukaran dan kesulitan). (Al-Amidi, Al-Ihkâm fî Ushûl al-Ahkâm, II/309). Lanjutkan membaca “Makna Ijtihad”

Pengertian Ijtihad

Menurut bahasa, ijtihad berarti (bahasa Arab اجتهاد) Al-jahd atau al-juhd yang berarti la-masyaqat (kesulitan dan kesusahan) dan akth-thaqat (kesanggupan dan kemampuan). Dalam al-quran disebutkan:

“..walladzi lam yajidu illa juhdahum..” (at-taubah:79)

artinya: “… Dan (mencela) orang yang tidak memperoleh (sesuatu untuk disedekahkan) selain kesanggupan”(at-taubah:79)

Kata al-jahd beserta serluruh turunan katanya menunjukkan pekerjaan yang dilakukan lebih dari biasa dan sulit untuk dilaksanakan atau disenangi. Lanjutkan membaca “Pengertian Ijtihad”

Cara ber-Ijtihad

Dalam melaksanakan ijtihad, para ulama telah membuat methode-methode antara lain sebagai berikut :

a. Qiyas

Yaitu menetapkan sesuatu hukum terhadap sesuatu hal yang belum diterangkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah, dengan dianalogikan kepada hukum sesuatu yang sudah diterangkan hukumnya oleh al-Qur’an / as-Sunnah, karena ada sebab yang sama. Contoh : Menurut al-Qur’an surat al-Jum’ah 9; seseorang dilarang jual beli pada saat mendengar adzan Jum’at. Bagaimana hukumnya perbuatan-perbuatan lain ( selain jual beli ) yang dilakukan pada saat mendengar adzan Jum’at ? Lanjutkan membaca “Cara ber-Ijtihad”

Kedudukan Ijtihad

Berbeda dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, ijtihad terikat dengan ketentuan-ketentuan sebagi berikut :

a. Pada dasarnya yang ditetapkan oleh ijtihad tidak dapat melahirkan keputusan yang mutlak absolut. Sebab ijtihad merupakan aktifitas akal pikiran manusia yang relatif. Sebagai produk pikiran manusia yang relatif maka keputusan daripada suatu ijtihad pun adalah relatif. Lanjutkan membaca “Kedudukan Ijtihad”

Macam-macam Illat hukum

Illat hukum dibagi menjadi tiga macam: 1. Illat yang ditetapkan oleh syara’ 2. Illat yang ditetapkan berdasarkan maslahah yang diperkirakan ada pada illat tersebut 3. Illat yang diperkirakan adanya pada ketetapan hukum tersebut.

Adapun illat yang ditetapkan oleh syara’ terdiri dari empat macam:

1. Al-Munasibul Mu’sir

2. Al-Munasibul Mulaim

3. Al-Munasibul Mulga

4. Al-Munasibul Mursal Lanjutkan membaca “Macam-macam Illat hukum”