Putusan MK Merubah UU Perkawinan Lahirkan Kontroversi

Jakarta [24/2]: Mahkamah Konstitusi (MK) membuat keputusan revolusioner pada Jumat 12 Februari 2012. MK menyatakan pasal 43 ayat (1) UU No 1/1974 tentang Perkawinan, yang awalnya hanya berbunyi “anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya”, diubah dengan tambahan “serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya”. Baca lebih lanjut

Undang-Undang Perkawinan RI No.1 Tahun 1974

Mengingat situasi di tanah air, angka perceraian semakin meningkat dari waktu ke waktu.  maka sangat dipandang perlu setiap pasangan memahami hak dan kewajibannya sebagai suami dan istri. Perceraian terjadi apabila kedua belah pihak baik suami maupun istri sudah sama-sama merasakan ketidakcocokan dalam menjalani rumah tangga. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan tidak memberikan definisi mengenai perceraian secara khusus. Pasal 39 ayat (2) UU Perkawinan serta penjelasannya secara kelas menyatakan bahwa perceraian dapat dilakukan apabila sesuai dengan alasan-alasan yang telah ditentukan.  oleh karena itu, berikut ini ditampilkan teks asli Undang-undang Republik Indonesia tahun 1974 tentang perkawinan: Baca lebih lanjut

Rumusan Fatwa MUI, talak diluar pengadilan

TASIKMALAYA (Arrahmah.com) – Beberapa rumusan fatwa MUI sudah mulai disepakati dalam  sidang komisi masail fiqhiyah mu’ashirah (masalah fikih komtemporer). Di antara permasalahan fikih yang menjadi sorotan komisi tersebut adalah tentang hukum talak (perceraian) di luar pengadilan.

Wacana yang bergulir di dalam Ijtima kali ini mengenai talak adalah bagaimana hukum talak tanpa persetujuan Pengadilan Agama, apakah termasuk sah atau tidak sah. Mengingat persoalan tersebut  memiliki konsekuensi hukum jika sah atau tidak bila dilakukan di luar pengadilan. Baca lebih lanjut

Hukum Talak Dalam Keadaan Marah

tanya: Suami sudah menjatuhkan talak kepada sy, ketika dia sedang dalam keadaan marah besar karena sesuatu hal. Dalam keadaan normal, suami sangat penyayang, namun suami saya menjadi sangat tidak terkendali jika dalam keadaan marah. saya yakin dia tidak sungguh-sungguh mengucapkan talak kepada saya. bagaimana hukumnya? apakah talak yang diucapkan suami benar-benar telah terjadi talak?

jawab: Menurut Wahbah Zuhaili marah (ghadhab) ada dua. Pertama, marah biasa yang tak sampai menghilangkan kesadaran atau akal, sehingga orang masih menyadari ucapan atau tindakannya. Kedua, marah yang sangat yang menghilangkan kesadaran atau akal, sehingga seseorang tak menyadari lagi ucapan atau tindakannya, atau marah sedemikian rupa sehingga orang mengalami kekacauan dalam ucapan dan tindakannya. (Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, 9/343). Baca lebih lanjut

Sebab-sebag Perceraian di luar Pengadilan Agama

Perceraian diluar agam sebagaimana sudah dibahas pada tulisan sebelumnya tidak dianggap syah karena pertimbangan perlindungan pada hak-hak istri dan lebih menjamin kemaslahatan untuk kedua belah pihak, salah satu pendapat:

K.H. Ahmad Azhar Basyir (mantan Ketua Majelis Tarjih dan Ketua PP Muhammadiyah), mengenai masalah ini, menyatakan: Perceraian yang dilakukan di muka pengadilan lebih menjamin persesuaiannya dengan pedoman Islam tentang perceraian, sebab sebelum ada keputusan terlebih dulu diadakan penelitian tentang apakah alasan-alasannya cukup kuat untuk terjadi perceraian antara suami-istri. Kecuali itu dimungkinkan pula pengadilan bertindak sebagai hakam sebelum mengambil keputusan bercerai antara suami dan istri. [Hukum Perkawinan Islam, h. 83-84]. Baca lebih lanjut

Talak Tiga Sekaligus

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia dalam rapatnya tanggal 27 Dzulhijjah 1402 H., bertepatan dengan tanggal 24 Oktober 1981 M. setelah  menimbang :

  1. Pendapat Jumhur Sahabat dan Tabi’in serta Imam Mazhab al-Arba’ah bahwa talak tiga sekaligus jatuh tiga. Ibnu Hazm dari Mazhab Zahiri juga berpendapat demikian.
  2. Pendapat Tawus, Mazhab Imaniyah, Ibnu Taimiyah, dan Ahlu az-Zahir, talak tiga sekaligus jatuh satu.
  3. Dilihat dari segi dalil, pendapat yang pertama lebih kuat. Baca lebih lanjut

Dr.Yusuf Qardhawi, T a l a k (Perceraian)

Para misionaris dan orientalis dewasa ini memusatkan serangannya pada dua permasalahan yang berkaitan dengan wanita, yaitu masalah perceraian(talak) dan poligami. Sungguh sangat disayangkan ghazwul fikri yang disebarkan oleh mereka itu sudah mendapat sambutan luas dari kaum muslimin. Sehingga mereka ikut ikutan menganngap kedua masalah tersebut sebagai problematika rumah tangga dan masyarakat. Baca lebih lanjut