Pemerintah Malaysia Larang Nonmuslim Gunakan Kata “Allah”

Harian Umum Sore: SINAR HARAPAN, Jakarta, Januari 2008:
Pemerintah Malaysia Larang Nonmuslim Gunakan Kata “Allah”

Kuala Lumpur – Pemerintah Malaysia, Jumat (4/1), menegaskan bahwa nonmuslim tidak boleh menggunakan kata “Allah” dalam media penerbitan. Sikap tersebut menyulut keprihatinan di antara umat Kristen yang juga menggunakan kata Allah untuk menyebut Tuhan dalam Alkitab bahasa Melayu dan terbitan yang lain. Abdullah Zin, Menteri Urusan Agama Islam, Kamis, kepada wartawan menyatakan bahwa menurut pandangan kabinet, Allah mengacu pada Tuhan umat Islam dan hanya boleh digunakan oleh muslim, yang meliputi 60 persen dari sekitar 27 juta penduduk Malaysia.

“Penggunaan kata ‘Allah’ oleh nonmuslim akan meningkatkan kepekaan dan menciptakan kebingungan di antara muslim di Malaysia,” kata Abdullah.

Bersamaan dengan itu, pemerintah memperingatkan kepada pengelola suatu surat kabar Katolik, The Herald, agar tidak lagi menggunakan kata “Allah” setelah izin terbitnya diperpanjang. “Kami telah menyetujui perpanjangan izin terbit. Kini mingguan tersebut wajib menaati keputusan pemerintah untuk tidak menggunakan kata Allah,” kata Deputi Menteri Keamanan Mohamad Johari Baharum kepada kantor berita AFP.

Pernyataan pejabat pemerintah tersebut merupakan perkembangan dari kontroversi panjang yang melibatkan The Herald, sebuah mingguan Gereja Katolik Malaysia. Bulan lalu Kementerian Keamanan Internal menyatakan bahwa seksi bahasa Melayunya melarang kalau tidak menghentikan penggunaan kata “Allah” sebagai sinonim Tuhan. Namun, mingguan itu terkejut ketika kementerian tersebut berbalik akhir pekan lalu dengan memperbarui izin tahunan mereka – sebuah persyaratan pemerintah bagi seluruh terbitan di Malaysia – tanpa menerapkan suatu persyaratan apa pun. Mingguan tadi mengasumsikan itu sebagai persetujuan diam-diam untuk penggunaan kata “Allah”.

Komentar Abdullah, Kamis itu, bagaimanapun, kembali melemparkan isu itu pada kebingungan baru dan tampaknya akan mengundang keluhan etnis minoritas atas hak-hak mereka yang terancam karena upaya pemerintah meningkatkan status Islam, agama resmi Malaysia. Editor The Herald, Pastor Lawrence Andrew, Rabu, menyatakan terbitan terkininya masih menggunakan kata “Allah”, namun ia tidak mengetahui terbitan berikutnya mungkin menghilangkan kata itu.

“Kami akan mendiskusikan hal ini dengan pengacara dan penerbit kami,” kata Andrew kepada The Associated Press. Namun, dia mengatakan pihaknya tetap mengajukan gugatan hukum atas larangan tersebut. “Kami tidak akan mencabut gugatan,” kata Lawrence mengenai gugatan yang dilayangkan Desember tahun lalu. Telah Lama Andrew juga menegaskan kembali pendirian mingguannya bahwa umat Kristen yang berbahasa Melayu telah lama menggunakan kata “Allah”, yang berakar dari bahasa Arab dan sebelum adanya agama Islam. “Terbitan kami menggunakan kata Allah dalam kutipan dari Alkitab (berbahasa Melayu). Tidak seorang pun mengatakan bahwa kami tidak boleh mengutip dari Alkitab. Ini akan menjadi pelanggaran berat terhadap hak-hak kami,” tegas Andrew. Ia menolak berkomentar lebih jauh, dengan catatan bahwa mingguannya telah mengupayakan tindakan hukum untuk mendapat pengesahan hukum bagi yang disebut dalam hak-hak konstitusional untuk menggunakan kata “Allah”. The Herald, dengan sirkulasi 12.000 eksemplar, diterbitkan dalam empat bahasa – bahasa Inggris, Melayu, Mandarin dan Tamil – bagi 900.000 umat Katolik Malaysia.

Sebuah gereja di negara bagian Sabah, timur Malaysia telah secara terpisah juga menerbitkan larangan penggunaan kata “Allah” dalam kesusastraan bahasa Melayu. Gereja-gereja menyatakan larangan itu melanggar kebebasan beragama yang dijamin oleh konstitusi. Isu-isu agama sangat peka di Malaysia, yang membanggakan diri akan harmoni multiras. Etnis China, yang sebagian besar penganut Kristen dan Buddha, meliputi sekitar seperempat populasi, sementara Hindu India kurang dari 10 persen. (ap/ant/afp/ega/ren)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s