Taubat

Manusia adalah hamba yang tidak luput dari kesalahan, baik terhadap Allah maupun kepada sesama manusia. Untuk menghapus kesalahannya dan mendapatkan ridha Allah subhanahu wa ta’ala, dia harus bertaubat.

Taubat secara bahasa berasal dari kata (تاب يتوب) yang berarti (رجع) “kembali”. Dan secara bahasa arti taubat adalah, “Kembali dari perbuatan maksiat kepada Allah, kembali kepada ketaatan kepada-Nya”.

Di dalam Al-Quran Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nur: 31)

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya.” (Hud: 3)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (At-Tahrim:8)

Ayat-ayat di atas adalah perintah Allah subhanahu wa ta’ala untuk bertaubat.

Al-Imam An-Nawawi dalam Kitab beliau yang mulia Riyadhus Shalihin menjelaskan syarat-syarat diterimanya taubat. Apabila perbuatan dosa itu hanya berkaitan dengan hak Allah saja, tidak bersangkutan dengan manusia, maka syaratnya ada tiga:

  • Meninggalkan perbuatan maksiat yang telah dia lakukan
  • Menyesali perbuatannya
  • Bertekat untuk tidak melakukan perbuatan itu selama-lamanya.

Apabila salah satu dari ketiga syarat ini tidak dipenuhi, maka taubatnya tidaklah sah.

Jika perbuatan dosa tersebut berkenaan dengan sesama manusia, maka syaratnya taubatnya selain ketiga syarat di atas ditambah syarat yang keempat yaitu:

  • Membersihkan atau membebaskan diri dari hak tersebut, dengan cara mengembalikan barang yang diambil kepada pemiliknya, jika itu berupa pengambilan harta benda, atau meminta penghalalan dan maaf kepada orang yang mungkin dituduh, difitnah, dighibahi, atau yang semisalnya. Dan jika itu menyakiti fisik maka mempersilahkan dia untuk melakukan qisash, kecuali bila telah dimaafkan.

Ulama yang lain seperti Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan Asy-Syaikh Yahya bin Ali Al-Hajuri menambahkan syarat taubat lainnya yaitu:

  • Masih dalam waktu diterimanya taubat, yaitu sebelum nyawa sampai ke kerongkongan atau sebelum kiamat tiba.
  • Perbuatan taubat itu harus ikhlas karena Allah ta’ala, bukan karena faktor-faktor lainnya.

 

Rerefensi:

1. Syarh Riyadhis Shalihin, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

2. Al-Hatstsu wat Tahridh ‘ala Ta’limi Ahkamil Maridh, Syaikh Yahya bin Ali Al-Hajuri.

3. AT Taubat Ila Allah, Dr. Yusuf al Qardhawi, Penerjemah: Abdul Hayyie al Kattani, Penerbit: Maktabah Wahbah, Kairo, Cetakan: I/1998

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s