Pengertian Ahl al-Kitab

Beberapa Pandangan tentang ahl al-kitab (ahli kitab) :

1. Sebagian ulama berpendapat bahwa Ahl al-Kitab hanya Yahudi dan Nasrani dari Bani Israel,sedangkan diluar Bani Israel. Sekalipun beragama Yahudi atau Nasrani.tidak termasuk Ahl al-Kitab. Mereka berargumen bahwa Nabi Musa a.s dan Isa a.s hanya diutus untuk kaumnya,yaitu Bani Israel (hal ini menunjukkan bahwa objek seruan Nabi Musa a.s dan Nabi Isa a.s yang diutus hanya Bani Israel). Akan tetapi,hal itu tidak menunjukkan tidak bolehnya orang diluar Bani Israel mengikuti risalah Taurat dan Injil; juga tidak menunjukkan bahwa pengikut Taurat dan Injil selain Bani Israel tidak termasuk Ahl al-kitab.Apalagi bahwa orang-orang Arab(bukan keturunan Bani Israel) pada masa Nabi saw. tetap dimasukkan sebagai bagian Ahl al-Kitab,disamping karena sebutan Ahl al-kitab adalah umum untuk semua orang yang menganut agama Yahudi dan Nasrani.

Imam ath-Thabari(tafsir ath Thabari),ketika menafsirkan surat Ali Imran ayat 64,menyatakan “Ahl al-Kitab bersifat umum mencakup seluruh pengikut Taurat dan pengikut Injil.Yang demikian sudah diketahui bersama,yakni bahwa yang dimaksud dengan Ahl al-kitab adalah dua golongan itu seluruhnya”. Hal senada juga dinyatakan oleh asy-Syaukani dalam tafsir Fath al-Qadir.

Imam Ibn Katsir(tafsir Ibn Katsir),ketika menafsirkan ayat tersebut.menyatakan ”Seruan ini bersifat umum mencakup seluruh Ahl al-kitab,yaitu Yahudi dan Nasrani,serta siapa saja yang berjalan diatas jalan mereka”.

Artinya,setiap orang yang menganut agama Yahudi atau Nasrani,sekalipun bukan keturunan Bani Israel adalah bagian dari Ahl al-Kitab

2. Ada juga sebagian kaum muslimin yang beranggapan bahwa sekarang Ahl al-kitab sudah tidak ada.Artinya orang Yahudi dan Nasrani yang sekarang bukanlah Ahl al-Kitab.Mereka berargumentasi,Ahl al-kitab adalah orang Yahudi dan Nasrani pada masa Rasulullah saw. atau menjalankan ajaran Taurat dan Injil yang sebenarnya secara tulus.

Pendapat tersebut kurang tepat,sebab penyimpangan orang yahudi dan Nasrani juga sudah terjadi pada masa Rasul saw. Bahkan sudah berlangsung sebelum masa beliau. Al Quran dengan jelas menyatakan bahwa ide trinitas menyakini bahwa al-Masih Putra Maryam adalah Allah,menyakini al-Masih adalah anak Allah,menyekutukan Allah dengan rahib-rahib dan orang-orang besar mereka sebagai Tuhan selain Allah(orang Yahudi juga berlaku sama), dan penyimpangan Nasrani lainnya masih banyak. sedangkanYahudi berkeyakinan bahwa Uzair adalah anak Allah, menutupi kebenaran dengan memalsukan isi Taurat dan banyak penyimpangan lainnya.

Artinya orang Yahudi dan Nasrani memang sudah menyimpang sejak masa Rasul saw. Oleh karenanya,mereka dengan jelas digolongkan sebagai orang kafir. Adapun sekarang,penyimpangan mereka bertambah lebih banyak lagi.Namun status mereka adalah sama dengan pada masa Rasul saw, yakni termasuk orang kafir.

3. Kalangan orang-orang “Berfikir Modelerat” memiliki pandangan lain tentang Ahl al-Kitab.Menurut mereka Ahl al-Kitab bukan hanya orang Yahudi dan Nasrani,tetapi mencakup semua penganut agama yang memiliki kitab suci.Pendapat ini jelas sangat bathil.

Rasul saw. dan para sahabat pada waktu itu mengetahui tentang orang majusi dan agama mereka. Namun, orang majusi tidak mereka sebut sebagai Ahl al-kitab. Imam Malik bin Anas meriwayatkan bahwa Umar pernah menyebut majusi lalu berkata ”Saya tidak tahu bagaimana memperlakukan urusan mereka”.kenyataan bahwa mereka bukan ahlul kitab juga diperkuat oleh fakta bahwa hukum tentang ahlul kitab tidak diterapkan semua atas mereka.Hasan bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib menuturkan ” Rasulullah saw,menulis surat kepada orang-orang Majusi Hajar.Beliau menyeru mereka pada Islam.Siapa saja yang masuk Islam diterima,sedangkan yang tidak,dikenakan atas mereka kewajiban membayar jizyah.hanya saja sembelihan mereka tidak boleh dimakan dan wanita mereka tidak boleh dinikai(HR al-Baihaqi)

Hadist ini menjelaskan perlakukan seperti Ahlul kitab dalam hadist Imam Malik diatas,yaitu perlakukan sama itu tidak dalam semua hal,tetapi hanya dalam masalah jizyah.Artinya orang Majusi juga dikenai kewajiban bayar jizyah tetapi mereka termasuk orang-orang musyik.

Ahlul kitab secara syar’i hanyalah orang-orang beragama Yahudi dan Nasrani baik dulu pada masa Rasul saw dan para sahabat ataupun masa sekarang dan yang akan datang.

Terhadap ahlul kitab,Islam memberikan hukum yang berbeda dengan kaum musyrik: sembelihan ahlul kitab boleh dimakan dan kaum wanitanya yang muhshanat(yang senantiasa menjaga diri dan kesuciannya) boleh dinikahi.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s