Realitas Suap (Riswah)

Suap yang dalam bahasa arabnya riswah merupakan sebuah problema umat Islam saat ini. Hampir di seluruh instansi-instansi pemerintah dan pendidikan ditemukan pekerjaan suap. Ini terjadi dikarenakan sulitnya untuk mendapatkan hak dalam instansi tersebut. Seperti yang di alami Andi ketika ingin membuat pasport untuk berangkat ke Mesir melanjutkan studinya. Andi ditawari pernyataan jika bayar sekian, pasport anda akan siap besok. Andi sebagai pemuda yang patuh akan peraturan menolak untuk melakukan suap, ia rela menunggu seminggu kemudian. Ketika seminggu telah berlalu, Andi datang ke intansi tersebut menanyakan perihal pasportnya, tapi jawaban yang diterimanya pasport belum ditandatangi kepala bidang, sehingga Andi terpaksa kembali esok hari. Keesokan harinya Andi datang ke instansi tersebut dan yang diterima hanya alasan-alasan belaka, sehingga seminggu menjelang keberangkatannya ke Mesir pasport pun tak kunjung selesai, akhirnya Andi memilih untuk melakukan suap supaya urusannya cepat selesai. Ini merupakan realita yang selalu di hadapi umat islam, bahkan untuk urusan yang berkaitan dengan pendidikan dan agama pun terdapat peroblematika seperti ini.

Suap dan Realita
Problema suap telah menjamur di pelbagai Negara, sehingga tidak lagi menjadi hal yang tabu bagi masyarakat dunia. Hal ini terjadi dikarenakan dengan pelbagai sebab, ada yang melakukannya karena malas berurusan dan menunggu terlalu lama, dan ada pula yang karena terpaksa harus melakukannya, jika tidak maka haknya tersebut lama baru didapat. Suap yang merupakan pekerjaan zholim akan selalu ditemukan masyarakat dari urusan yang terkecil sampai yang terbesar. Problema ini akan terus menjalar dan menjadi panjang dikarenakan orang yang memberi suap merasa mudah dalam mendapatkan haknya, sehingga setiap ingin mendapatkan haknya pada sebuah intansi akan melakukan hal yang sama. Begitu juga buat orang yang menerima suap akan merasakan keenakan disamping mendapatkan gaji tetap dan tidak menambah pekerjaan, hanya tinggal mempercepat pekerjaan. Jika realita ini terus berjalan maka hukum hanya tinggal sebagai ‘pajangan’ saja. Setiap pemerintah dalam suatu negara mengetauhi hal itu, namun peringatan hanya sebagai peraturan yang bersifat temporal ketika terjadi kritikan baru berjalan. Lagi-lagi pekerjaan zholim ini akan terus menjamur dalam kehidupan, berubah menjadi budaya ‘kotor’ yang selalu terdapat dalam setiap urusan yang dikerjakan masyarakat. Yang akhirnya kelak budaya suap tersebut tidak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi bahkan sudah terang-terangan. Akankah budaya ‘kotor’ ini dibiarkan begitu saja? Bagaimana tanggapan para ulama terhadap budaya ‘kotor’ yang terus menggerogoti pikiran masyarakat, yang akhirnya diitakuti kini dianggap suatu hal yang sah-sah saja?

Suap dan Fatwa Agama
Islam sebagai agama yang selalu memperhatikan kesejahteraan umatnya tentu tidak akan tinggal diam dalam menanggapi budaya ‘kotor’ yang terus menjalar dipelbagai bidang, Kalau diteliti suap yang dalam bahasa Arabnya riswah merupakan pebuatan yang zholim dengan memakan harta orang lain secara bathil yang jelas bukan miliknya. Sehingga para ulama sepakat bahwa suap merupakan pekerjaan yang diharamkan agama (syari’). Sebagaimana Firman Allah SWT. Dalam surah al-Baqarah ayat 188:

Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetauhi.

Dan sabda Rasulullah saw : pemberi suap dan penerima suap masuk dalam neraka, Dalam hadits yang lain Rasulullah saw. bersabda: Allah swt. melaknat pemberi suap penerima suap dan perantara keduanya.

Dalil ini jelas sekali menyatakan bahwa pemberi suap (râsyi), penerima uang suap (murtasyi) dan perantara keduanya (râisy) merupakan pekerjaan yang diharamkan oleh syari’ (agama) dan Imam Mazhab yang empat sepakat akan pengharaman riswah (suap) tersebut.

Adapun pemberian hadiah dari yang punya hak kepada petugas intansi dengan maksud tidak menyuap, tetapi untuk tercapainya hak yang diinginkannya dari sebuah intansi tersebut tergolong perbuatan yang diharamkan juga, karena ini tergolong suap (riswah) dalam bentuk majaz. Sebagiamana yang dijelaskan dalam kitab Tahqiq al-Qadiyah fi al-Fâriq baina al-Riswah wa al-Hadiyah karangan Allâmah Abd al-Ghani al-Nabilsi.

Bagaimana problema seperti yang dihadapi Andi, sehingga mengakibatkannya harus melakukan suap dikarenakan sulitnya mendapatkan hak dan mepetnya waktu? Di dalam majalah al-Wa’yu al-Islâmi diberitakan bahwa para ulama Al-Azhar berbeda pendapat dalam menaggapi problema suap (riswah) yang menjamur di dunia, terutama di Negara Mesir sendiri. Dr. Ali Jum’ah sebagai Mufti Mesir saat ini membolehkan riswah (suap) dengan beberapa syarat, antara lain tidak adanya cara lain ataupun penolong untuk mendapatkan hak tersebut, dan supaya lepasnya permasalahan berkepanjangan tersebut dari orang fasiq (baca; penerima suap). Hal ini baru dapat dilakukan jika terpenuhi syarat-syarat tersebut, dan kondisinya ketika itu memang sangat terjepit, sehingga baginya memilih yang lebih ringan diantara dua yang memudratkan (Irtikâb li akhaf al-dharurain) demi menjaga haknya. Adapun dasar hujjah Mufti Al-Azhar akan pendapatnya tersebut, yaitu dengan kaidah fiqh (qa’idah al-fiqhiyyah) yang terdapat dalam kitab al-Asbah wa an-Nazhoir karangan Imam Suyuthi as-Syafi’i: “Setiap yang haram diambil haram pula untuk diberikan” kecuali pada lima perkara, diantaranya suap (riswah) untuk mendapatkan haknya. Dan menguatkan pendapat tersebut Ibnu ‘Abidin dalam kitabnya hasyiyah ‘ala isytibah dengan kaidah: “Memilih yang lebih ringan diantara dua yang memudratkan adalah wajib”. Dan argumentasi Dr. Ali Jum’ah yang lain dengan kaidah: “sesungguhnya kemudratan itu tergantung pada ukurannya” dengan memberikan contoh memakan bangkai itu haram dan tidak boleh memakannya kecuali ketika dalam kemudhratan. Jika kemudhratan itu telah hilang, maka kembali pada hukum asalnya yaitu haram.

Dan perihal permasalahan dosa yang terjadi dalam riswah (suap) tersebut, maka yang mendapat dosa hanya penerima suap (murtasyi) saja, sedangkan yang punya hak dalam hal ini orang yang memberikan riswah (râsyi) karena terpaksa tidak mendapat dosa. Alasan mengapa yang menerima riswah (suap) saja yang mendapat dosa, dikarenakan menahan hak orang lain secara bathil dan mengambil harta yang bukan haknya

Pendapat Mufti Al-Azhar ini ditanggapi oleh para ulama Al-Azhar sendiri, ada yang senada dengan pendapat beliau dan adapula yang membantah pendapat beliau secara terang-terangan, yang menurut mereka hal ini telah membuka satu pintu kejahatan dan akan sulit menutupinya kembali. Berikut diantara alasan para ulama Azhar menolak dibolehkannya praktek riswah:

  1. Dua masdar hukum islam; al-Quran dan Sunnah telah mengharamkan secara jelas dan tegas akan praktek riswah (suap) tanpa ada pengecualian. Maka dalil-dalil tersebut tidak dapat dikecualikan dengan perkataaan fuqoha’ (ulama Fiqh), bagaimanapun situasi dan kondisinya.
  2. Hadits Rasul tersebut menunjukkan bahwa yang pertama kali dilaknat Allah sebelum penerima suap (murtasyi) adalah pemberi suap (râsyi). Hal ini membuktikan bahwa pertanggungjawaban yang terbesar terletak pada pemberi suap (râsyi), sekalipun dari segi mendapat laknat Allah sama. Karena itu tidak dapat mengecualikan pemberi suap (râsyi) dalam hal dosa.
  3. Kemudhratan yang dijadikan alasan pembolehan terjadinya praktek riswah (suap) belum mencukupi syarat. Karena, sebagaimana yang disepakati Ijma’ ulama bahwa kemudhratan yang membolehkan penggunaan yang haram, jika tidak melakukan hal tersebut dirinya akan berbahaya yang dapat mengakibatkan kematian atau hilang salah satu anggota tubuhnya, bukan dikarenakan kesempitan dan kesulitan waktu.
  4. Kenapa dosa riswah (suap) tersebut hanya mengenai penerima suap (murtasyi) saja, kalau ditilik dari segi keuntungan lebih banyak didapat pembari suap (râsyi) dari peneriam suap (Murtasyi). Maka akan timbul pertanyaan kenapa penerima suap (murtasyi) tidak mendapat hal yang sama?


Diantara ulama yang senada dengan penadapat mufti Azhar, Dr. abdul ‘azim al-muth’ani; ustadz Dirosat al-‘Ulya Jami’ah al-Azhar. Beliau berpendapat: “bahwa seorang yang terjepit untuk mendapatkan haknya dan dalam kondisi yang sangat mendesak sehingga mengharuskan melakukan riswah (suap), itu merupakan suatu rukhsoh (keringanan) baginya. Hal ini pun dapat dilakukan jika tidak ada cara lain dan penolong untuk mendapatkan haknya, sehingga pokok permasalahan tinggal pada murtasyi (penerima suap) saja, karena yang memiliki hak berada dalam dua kondisi; menyerahkan permasalahan ini kepada Allah (baca: tawakkal) dengan tidak melakukan riswah (suap)…dan ini lebih baik, atau melakukan riswah (suap) karena terpaksa dan pada hakekatnya sangat membenci pekerjaan riswah (suap) tersebut sehingga posisinya ketika itu sangat terjepit (‘uzur) sekali, hal ini juga dibolehkan. Sebagaimana terjadi pada orang yang sangat kelaparan ditengah hutan sehingga mengharuskannya memakan daging babi untuk menolak yang hal yang membahayakan bagi dirinya, tetapi ketika lapar itu telah hilang maka tidak boleh baginya meneruskan makanan tersebut hingga kenyang”.

Sekiranya mufti Azhar menjelaskan sedetail pendapat Dr. Abdul ‘azim, mungkin tidak ada yang membantah pendapat beliau Sekarang tinggal kita memikirkan apakah riswah (suap) yang dilakukan ketika ditilang polisi ditengah jalan termasuk yang memudhratkan atau tidak? Mari…Tanya nurani kita masing-masing!
Oleh Rahmat Hidayat Nasution*

sumber: http://www.kafemuslimah.com/article_detail.php?id=613

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s