Kelebihan Uang Kantor

Pertanyaan:

Assalamualaikum Wr. Wb.

Ustadz, saya ingin tanya tentang masalah yang saya hadapi di kantor. Saya bekerja di instansi pemerintah, terkadang mendapat tugas untuk mengumpulkan sampel yang akan diuji di laboratorium. Dalam tugas ini kami harus membeli sampel dan untuk setiap sampel telah disediakan uang dalam jumlah tertentu sedangkan harga sampel bervariasi. Seringkali dalam setiap tugas ada kelebihan uang sampel namun tidak ada mekanisme pengembalian ke bendahara kecuali uang untuk sampel yang tidak diperoleh sehingga kuitansi harus diisi sesuai dengan jumlah total uang yang tersedia untuk sampel yang telah terbeli.Lalu apakah saya boleh menggunakan uang sisa sampel yang dibagikan ke setiap petugas sampel? Mohon penjelasannya ustadz.

Jazakumullah.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

dhani

Jawaban:

wa’alaikumsalam wr.wb

segala puja dan syukur kepada Allah Swt dan salawat salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Saw dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. pada prinsipnya dalam masalah muamalah maliyah (urusan keuangan/harta), bahwa segala bentuk penghasilan harus bersumber dari sebuah usaha, baik usaha itu berupa jual beli atau jasa. bentuk usaha dan jasa yang dilakukan tersebut tentu harus yang halal sehingga hasil yang didapat juga halal. Adapun praktek-praktek yang berjalan di lingkungan perkantoran, khususnya perkantoran/instansi pemerintah, seperti yang saudara penanya sampaikan, adalah praktek-praktek koruptif. dimana negara harus mengeluarkan anggaran yang tidak sesuai dengan kebutuhan. meskipun margin antara anggaran dan barang yang dibutuhkan itu sangatlah kecil, contohnya seperti kasus yang penanya sampaikan, akan tetapi coba kalau dikalkulasikan dari setiap praktik yang ada. kalau setiap instansi pemerintah menggunakan sistem seperti itu, dimana tidak ada mekanisme yang jelas yang mengatur kelebihan uang dari pengadaan barang, maka hal itu akan menuntut setiap orang untuk berlaku bohong, misalnya seperti harus mengisi kwitansi sejumlah anggaran yang telah ditetapkan, padahal harga barang yang dibeli tidak sebesar itu. dan kelebihannya masuk ke kantong masing-masing. hal itu adalah bagian dari penipuan, karena melaporkan tidak sesuai dengan kenyataannya. padahal seharusnya uang kelebihan itu adalah milik pemerintah yang harus dikembalikan, dan dipertanggung jawabkan pelaporannya. akan tetapi sistem yang sudah berjalan itu tadi, dimana tidak di atur mekanisme pengembalian uang ke bendahara dan setiap pengadaan barang harus sesuai tertulis kwitansi sejumlah anggaran yang ditetapkan. sistem seperti ini yang harus dirubah. saran kami, cobalah untuk memulai untuk mereformasi lingkungan yang kurang baik, meski dari hal-hal yang kecil, mungkin saudara mampu untuk tidak mengikuti sistem, atau kebiasaan yang sudah berlaku, misalnya dengan mengisi kwitansi sesuai dengan harga yang dikeluarkan, dan kelebihannya dikembalikan ke bendahara. karena jika kelebihan uang itu dikembalikan ke bendahara, namun dalam kwitansi tetap tertulis sesuai dengan anggaran, artinya uang itu tidak tersisa. tentu pengembalian ke bendahara itu akan sia-sia, kerena pasti tidak akan kembali ke khas negara/instansi terkait, karena dalam bukti (kwitansi) anggaran tersebut telah terbelanjakan. melainkan akan masuk ke kantong orang-orang tertentu. kesimpulannya, bahwa pada dasarnya saudara tidak ada hak untuk mengambil uang lebihan tersebut, karena uang itu adalah milik negara. jadi seharusnya jika ada kelebihan harus dikembalikan ke khas negara/bendahara. akan tetapi karena sistem yang berlaku seperti itu, dimana anda harus melakukannya, dengan menulis kwitansi sesuai dengan anggaran, dan tentu jika kelebihan uang itu dikembalikan juga akan dinikmati oleh person-person tertentu alias tidak akan kembali ke khas negara, apalagi hal itu sudah terjadi, maka kami menganggapnya uang kelebihan itu adalah uang syubhat. karena sesuatu syubhat itu lebih dekat kepada yang haram, bukan kepada yang halal, maka kalaupun toh harus dimanfaatkan, gunakanlah untuk hal-hal yang bersifat kemaslahatan umum. maksudnya tidak dikonsumsi (dimakan) sendiri atau perorangan. misalnya digunakan untuk membantu perbaikan jalan yang rusak (seperti di kampung2), membangun toilet umum, sumur umum dan fasilitas publik lainnya. Sekali lagi, jika memang anda bisa memulai untuk mengembalikan kelebihan uang tersebut ke bendahara, dengan mengisi kwitansi sesuai dengan pengeluaran, tentu itu yang lebih baik dan memang seharusnya seperti itu. wallahu a’alam.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s