Apa Hukum Uang Amplop Yg Bukan Gaji?

Pertanyaan:

Asswrwb, salam hormat buat ustadz semuanya. teman saya bekerja dikantor pajak didaerah bekasi barat, beliau sering mendapat uang amplop dari bosnya, tp selalu menolaknya, dia bilang syubhat dan tidak berkah. tp kata seorang teman yg aktif didakwah mengatakan boleh mengambil uang amplop itu, karena dia mendengar langsung seorang ustadz yg anggota dewan membolehkannya untuk dakwah. sebetulnya apa hukum uang amplop ini. karena kalau memang dibolehkan kasihan pendapat teman saya yg selalu menolak uang amplop dr kantornya padahal dia kadang2 sangat butuh uang? itu saja ustad maaf kalau lancang bertanyanya, sy tahu situs ini dari teman yg aktif dipks?

andi saputra

Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d
Assalamu alaikum wr.wb.
Dalam kondisi apapun pada dasarnya setiap muslim harus tetap istiqamah dan memegang sikap wara’ (hati-hati) dari segala yang syubhat dan haram demi melaksanakan pesan Allah SWT. dan berharap akan janji-Nya. karena itu, harus dipastikan terlebih dahulu apa kedudukan amplop yang diberikan oleh bos Anda serta apa maksudnya. Sebab, jika kedudukannya masih syubhat Nabi SAW bersabda:

Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan diantara keduanya ada perkara yang syubhat dimana sebagian besar manusia tidak mengetahuinya. Barangsiapa menjaga dari yang syubhat maka telah menjaga agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang jatuh pada yang syubhat maka telah jatuh pada yang haram” (HR Bukhari dan Muslim)

Hal itu perlu dilakukan agar kita tidak beresiko mendapat laknat karena mendekati perbuatan yang diharamkan Allah SWT. Jika ia termasuk suap, Rasulullah SAW memang agak keras dalam mengancamnya dengan laknat. Beliau bersabda
Allah melaknat penyuap, yang disuap dan perantara keduanya” (HR At-Tabrani)

Pada dasarnya, setiap perolehan apa saja di luar gaji dan dana resmi/legal yang terkait dengan jabatan/pekerjaan merupakan harta ghulul (perolehan yang bukan haknya) dan hukumnya tidak halal. Meskipun hal itu atas nama ‘hadiah’ dan ‘tanda terimakasih’ akan tetapi dalam konteks dan perspektif syariat bukan merupakan hadiah tetapi dikategorikan sebagai risywah (suap) atau syibhu risywah (semi suap) atau risywah masturoh (suap terselubung), risywah musytabihah (suap yang tidak jelas) ataupun ghulul.
Dalam hal ini Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Al-Karim :

Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” (QS Al Baqarah 188)

Disebutkan dalam hadits bahwa Ibnu Al Lutbiyah seorang petugas zakat yang berasal dari suku Asdi ketika ia tiba di Madinah seusai menjalankan tugasnya mengatakan:
Ini adalah (hasil pungutan zakat) untuk kalian (Baitul Mal) dan yang ini adalah untukku yang telah dihadiahkan (para wajib zakat) kepadaku.” Nabi seketika berdiri dan berkhotbah dengan membaca hamdalah lalu mengatakan: “Amma Ba’du. Saya telah mempekerjakan seseorang dari kamu pada sebuah tugas yang Allah amanatkan kepadaku, lalu ia mengatakan; ini untuk kamu dan yang ini adalah hadiah yang dihadiahkan untukku. Mengapa ia tidak duduk-duduk saja (tidak menjadi petugas) di rumah bapak dan ibunya sehingga datang kepadanya hadiahnya, jika memang ia benar?! Demi Allah, tidaklah seorang dari kamu mengambil sesuatupun selain haknya, kecuali ia akan menghadap Allah dengan memanggulnya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud. Lihat; Al Mundziri dalam At Targhib Wa At Tarhib, I/277 dan Al Qardhawi dalam Fiqh Az Zakat, II/592)

Namun bila hadiah itu bersifat tidak mengikat dan juga nilainya tidak besar yang secara `urf yang dikenal masyarakat tidak akan mempengaruhi cara Anda bekerja atau ketidaksesuaian dengan prosedur yang berlaku, maka tidak menjadi bagian dari risywah atau sogok. Misalnya ballpoint dan beragam accessoris lainnya yang merupakan merchandise secara umum. Hanya saja, meski tidak mahal namun bila ikut memperngaruhi anda untuk melakukan sesuatu di luar prosedur yang berlaku, bisa saja dijadikan bagian dari sogokan.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Sumber:  http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/25867

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s