Bolehkah Kita Menjadi Pegawai Negri?

Soal:
Kita tinggal di sebuah negara yang tidak berhukum dengan syari’at Allah. Pertanyaannya, bolehkah kita menjadi pegawai pada negara tersebut? Apakah jika menunaikan kewajiban kita sebagai pegawai dapat dianggap tolong-menolong dalam hal dosa dan permusuhan? Jelaskanlah kepada kami, semoga Allah memberikan balasan yang baik kepada Syaikh.

Jawab:
Saya katakan, sangat disayangkan, kebanyakan negeri Islam -apalagi yang bukan negeri Islam- tidak menerapkan hukum sebagaimana yang diinginkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala.
Akan tetapi sebagian negeri lebih banyak dari negeri yang lain (di dalam menerepakan selain hukum Allah, Red), dan sebagiannya lebih sedikit dari yang lain. Sebagiannya terang-terangan dan sebagiannya sembunyi-sembunyi.
Tidak ada yang bisa memberikan solusi kecuali Allah. Tidak ada yang dapat kita lakukan kecuali bersabar, berdo’a, tetap istiqamah, dan tetap berdakwah di jalan Allah dengan landasan ilmu.
Sedangkan revolusi, mengkafirkan, memberontak kepada pemerintah, membuat huru-hara dan mengerahkan massa; ini semua tidaklah berjalan pada jalan yang haq, dan juga bukan merupakan jalan orang yang berada di dalam kebenaran.
Adapun berkaitan dengan pekerjaan, menjadi pegawai di negara ini atau negara itu, maka hukum suatu pekerjaan pa saja, di manapun tempatnya, tergantung dengan hakikat dan tabi’at pekerjaan itu sendiri. Jika pekerjaannya syar’i (sesuai agama) atau minimal tidak melanggar syara’ (agama), maka ini boleh, meskipun (bekerja) pada orang-orang kafir murni. Bermu’amalah dengan orang-orang kafir hukumnya boleh, selama mu’amalah itu tidak melanggar syari’at. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam wafat sedangkan baju besi beliau digadaikan pada orang Yaudi, hadits riwayat al Bukhari.
Kalau begitu, sebelum engkau mengatakan boleh atau tidak boleh, maka lakukanlah dengan sempurna dan sebaik-baiknya pekerjaanmu, agar engkau tidak melanggar syariat, dan agar engkau tidak melalaikan pekerjaan yang telah diwajibkan atasmu. Jika kondisinya seperti ini, maka boleh.
Sedangkan jika pekerjaan (tersebut) kehilangan salah satu dari dua hal di atas (yaitu kesesuaian dengan syari’at atau tidak melanggar syari’at), maka tidak boleh. Dan ini, tidak ada hubungan antara negara tersebut melaksanakan syari’at Allah atau tidak, dalam naungan kedua syarat ini. Sebab kalau tidak, misalnya ada sebuah negara berhukum dengan syari’at Allah, lalu ada salah seorang pegawai melakukan pelanggaran syari’at, apakah keadaan negaranya yang menerapkan syari’at Allah ini bisa memberikan pertolongan baginya? (Yakni menjadikan pekerjaannya yang menyelisihi syari’at itu menjadi halal?) tidak akan bisa memberikan pertolongan. Jadi, hukumnya tetap terkait dengan hakikat pekerjaan yang dilakukan. Wallahu ‘alam

(Syaikh Ali bin Abdul Hamid bin Hasan al Halaby, dalam muhadharah di Masjid al Muhajirin, Malang, Kamis, 16 Februari 2006M).

Tulisan ini diambil dari Majalah As-Sunnah, Edisi 01/X/1427H/2006M

dikutip dari http://indrawahyudi.com/?p=3

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s