Membina Hubungan Dengan Orang Lain

Muqaddimah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (الحج:77)

“Hai orang-orang yang beriman ruku’lah, sujudlah dan sembahlah Rabbmu serta perbuatlah kebajikan-kebajikan agar kalian memperoleh keberuntungan / kemenangan”. (QS. Al-Hajj:77)

Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Hajj ayat 77 di atas mengisyaratkan bahwa untuk meraih keberuntungan di dunia dan akhirat dibutuhkan usaha terpadu berupa kegiatan ‘ubudiyah atau hablumminallah dan kegiatan memproduksi kebajikan atau hablumminannaas.

Selain diperintahkan untuk ruku’, sujud dan menyembah Allah, seorang Mu’min juga dituntut aktif berbuat kebajikan terhadap sesama manusia.

Korelasi antara hubungan vertikal (hablumminallah) dengan hubungan horizontal (hablumminannaas) juga terlihat jelas dalam Hadits Nabi SAW:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَخَالِقْ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ وَإِذَا عَمِلْتَ سَيِّئَةً فَاعْمَلْ حَسَنَةً تَمْحُهَا

“Bertaqwalah kepada Allah di manapun kamu berada dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik (karena kebaikan dapat mengkompensasi keburukan) dan bergaullah dengan sesama manusia dengan akhlaq yang baik.”

Dalam hadits tersebut terungkap setelah perintah bertaqwa kepada Allah dilanjutkan dengan perintah berbuat kebaikan serta bergaul dengan sesama manusia dengan akhlaq yang baik.

Sehingga keunggulan kompetitif vertikal seseorang atau dalam kaitannya dengan hablumminallah ditentukan berdasar tingkat ketaqwaannya,

… إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ … (QS. 49:13)

Sedangkan keunggulan kompetitif horizontal ditentukan oleh besar kecilnya kadar kemanfaatan yang dimiliki orang tersebut bagi orang lain

خير التاس أنفعهم للناس

“Khairunnaasi anfa’uhum linnaas”, Sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Al-hadits, Riwayat …)

Menyadari adanya keterkaitan yang begitu erat antara hablumminallah dan hablumminannaas, para salafus shalih cepat melakukan instrospeksi (muhasabah) terhadap hablumminallah mereka apabila mereka mengalami kesulitan atau masalah di dalam hablumminannaas mereka.

Jadi misalnya suatu saat mereka mendapati istri mereka marah-marah, anak-anak mereka sulit diatur dan bahkan keledai atau onta mereka susah dikendalikan, maka mereka segera merasa bahwa ada yang tidak beres dalam hubungan ‘ubudiyah dan taqarrub mereka kepada Allah.

Namun sebaliknya, walaupun seseorang rajin beribadah kepada Allah atau menonjol kegiatan ‘ubudiyahnya, bila hubungannya dengan sesama manusia buruk, maka ia tidak akan selamat di dunia apalagi di akhirat. Seperti digambarkan dalam sirah, tentang seorang wanita yang ahli ibadah, rajin shalat tahajjud dan shaum sunnah tetapi karena ia gemar menyakiti hati tetangganya baik dengan lisan maupun perbuatan, maka ia dikomentari Rasulullah SAW sebagai calon penghuni neraka. Na’udzubillahi min dzalik.

Seyogyanya memang hubungan yang baik dan sehat antara seorang hamba dengan Rabbnya akan berimbas atau berdampak positif pada hubungannya dengan sesama manusia.

Syarat-syarat membina hubungan dengan orang lain

Syarat utama atau modal dasar membina hubungan dengan orang lain adalah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Dengan kata lain kunci utama pembuka hubungan baik dengan orang lain adalah adanya quwwatu sillah billah (kekuatan hubungan dengan Allah). Karena memang seperti sudah disinggung di bagian muqaddimah bila hubungan kita dengan Allah baik, akan baik pulalah hubungan kita dengan manusia lain. Tetapi jika yang terjadi seseorang yang rajin beribadah tetapi akhlaqnya buruk sehingga buruk pula hablumminannaasnya, berarti ada “something wrong” dalam ibadahnya tersebut. Boleh jadi ibadah yang dilakukannya tersebut sekedar ritual yang tidak dihayati dan difahami sehingga tidak membawanya pada esensi atau hakikat ibadah tersebut.

Padahal dalam Islam tidak ada dikotomi antara ibadah khasshah seperti ruku’, sujud dalam shalat, shaum, haji dll dengan ibadah ’ammah seperti berbuat baik pada orang tua, tetangga dll. Atau seperti diungkapkan pula di dalam Al-Qur’an bahwa sesungguhnya shalat dapat mencegah manusia dari perbuatan keji dan munkar.(QS. Al-Ankabut:45) Artinya shalat yang dihayati sampai pada esensinya akan berdampak positif tercegahnya manusia dari keburukan akhlaq.

Secara sederhana hal itu pernah pula diungkapkan dalam lirik ciptaaan penyair Taufik Ismail dan disenandungkan oleh Group Bimbo yakni: ada sajadah panjang panjang terbentang dari buaian hingga ke tepi kuburan. Jadi dzikrullah atau ingatnya manusia kepada Allah, tak hanya ketika berada di atas sajadah, melainkan juga setelah keluar dari atas sajadah.

Oleh sebab itu sebelum kita membina hubungan dengan orang lain berdasarkan akhlaqul karimah, kita harus lebih dulu membina hubungan dengan Allah yakni dengan cara menerapkan akhlaq terhadap Allah, Rasul dan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dari-Nya.

Syarat kedua untuk membina hubungan dengan orang lain setelah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah adalah husnul khuluq atau akhlaq yang baik.

Akhlaq yang baik sebenarnya adalah buah keimanan dan ketaqwaan. Ada keterkaitan yang erat antara keimanan dengan akhlaq seperti nampak dalam hadits-hadits yang berisikan suruhan-suruhan Nabi SAW untuk berbuat baik selalu didahului dengan masalah keimanan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau (lebih baik) diam. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah memuliakan tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah memulialkan tamunya.”

Akhlaq yang baik ini meliputi akhlaq terhadap Allah, Rasul, Al-Qur’an (vertikal) dan akhlaq terhadap sesama manusia seperti pada orangtua, suami, istri, anak, khadim, teman, tetangga, binatang dan alam. Hal itu semua akan lebih dirinci dalam bagian setelah ini.

Syarat ketiga untuk membina hubungan dengan orang lain adalah skill, keahlian atau ketrampilan berkomunikasi, berinteraksi dan beradaptasi dalam hubungan dengan sesama manusia.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s