Kezhaliman

Dapat dipastikan bahwa kata-kata zalim sudah tidak asing bagi kaum Muslimin karena ia sering kali didengar dalam khotbah-khotbah, ceramah-ceramah dan  dijumpai dalam buku-buku agama Islam. Tetapi justru karena seringnya dijumpai itulah agaknya “utility” kata-kata ini menjadi berkurang ( meminjam istilah marginal utility dalam teori permintaan) yang direfleksikan dalam kenyataan sosial bahwa ia kurang mendapatkan perhatian serius dari kaum Muslimin sendiri atau malah cenderung diremehkan. Padahal ia merupakan kata-kata kunci untuk mengalisis jatuh bangunnya suatu peradaban dan bangsa.

 Dalam Lisanul Arab yang kesohor itu Ibnu Manzhur (630-711 H) mengartikan kata-kata “zulm” sebagai “ meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya”. Ini merupakan arti dasar dari kata-kata tersebut. Sepintas kalimat ini agaknya sepele, tetapi bila konteks pembicaraan itu suatu subjek yang paling sakral, maka artinya menjadi sangat signifikan. Itulah sebabnya dalam al-Qur’an dikatakan bahwa syirik adalah kezaliman yang paling besar (al-Qur’an Luqman : 13). Dalam al-Qur’an 18: 59 dinyatakan “ Dan negeri-negeri itu Kami hancurkan lantaran mereka berlaku zalim dan Kami jadikan masa kehacuran meraka suatu ketetapan (waktu).” Ayat ini seolah-olah menjadi penutup bagi ayat-ayat sebelumnya yang menjelaskan perilaku bangsa-bangsa yang mendustakan kebenaran dari Allah SWT dan akhir perjalanan mereka menemui kehancuran karena kezaliman yang mereka lakukan. Ayat ini seolah-olah berkata : “ Begitulah perjalanan akhir dari tiap-tiap bangsa yang menolak kebenaran dariKu, mendustakan utusanKu dan lebih memilih jalan hidup yang didasarkan bukan pada ajaran-ajaranKu.”  Mereka menganiaya dirinya sendiri dengan menempatkan kebatilan sebagai haluan kehidupannya dengan mengabaikan dan mengenyampingkan wahyu. Oleh sebab itu mereka menemui kehancuran lantaran keseimbangan dalam kehidupan tidak lagi dapat dipertahankan. 

 

Dalam ayat lain  ( al-Qur’an  17 : 16 ) Allah mengatakan : “ Dan jika Kami hendak menghancurkan suatu negeri, Kami ilhamkan orang-orang yang hidup mewah di dalamnya, maka mereka berbuat kedurhakaan di dalamnya, lalu terwujudlah ketetapan (kehancurannya) maka Kami hancurkan sehancur-hancurnya.” Mutrof (orang-orang yang hidupnya berlebih-lebihan karena memiliki kekayaan yang banyak) adalah segolongan kecil dalam suatu komunitas tetapi karena kekayaannya, mereka dapat mendominasi aspek-aspek kehidupan masyarakat dan berbuat yang melanggar aturan tetapi tidak terjangkau oleh undang-undang yang berlaku. Para mutrofin ini adalah motor kedurhakaan, kejahatan, kemaksiatan dan kenistaan dalam masyarakat. Mereka memiliki sumber-sumber daya baik itu manusia maupun modal dan memiliki akses yang banyak sehingga dapat memasuki semua jaringan kehidupan ekonomi, politik, sosial, pertahanan dan sebagainya. Bahkan dengan sumber-sumber kekuatan dan akses yang ada di tangannya mereka dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah di hampir semua sisi kehidupan di mana ada kepentingan mereka di dalamnya.

Mereka adalah orang-orang yang berada di garis paling depan menentang kebenaran yang dibawa oleh setiap Rasul. Dalam banyak kesempatan al-Qur’an menyebutnya dengan mala’ seperti dalam al-Qur’an 2:  246; 7: 60, 66, 75, 88 dan lain-lain. Jika mutrof lebih memperlihatkan aspek kekayaan yang dinikmati oleh orang-orang kaya secara berlebih-lebihan, maka mala’ memiliki dimensi kepemimpinan, kepemukaan dan kewibawaan yang terjadi timbul karena sifat-sifat kepemimpinan. Karena itu mereka adalah para pemuka, pembesar dan orang-orang yang terpandang di kalangan suatu kaum. Mereka adalah rujukan bagi setiap persoalan yang timbul di kalangan para anggota warganya. 

Dalam ayat lain ( al-Qur’an 6: 123) menyebutkan akaabir mujrim yang artinya pembesar-pembesar penjahat dengan segala gerak-geriknya yang mengandung berbagai tipu daya dan makar untuk menegakkan dan memenangkan kebatilan.  Sebaliknya mereka menentang dan menolak kebenaran yang datang dari Rasul.

Baik mutrof, mala’ maupun akaabir mujrim memiliki sifat yang sama yaitu menentang ajaran kebenaran yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul. Dalam konteks masa kini agaknya ketiga golongan tersebut dapat diwakili oleh konglomerat, politisi dan petinggi militer atau pejabat tinggi negara. Ketiga golongan ini bila telah bersekutu dalam kefasikan, kejahatan, makar dan monopoli dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat dan negara dapat dibayangkan apa yang terjadi pada suatu negara. Kebijakan pemerintah (public policy) tidak lagi mencerminkan prioritas sosial yang sesungguhnya melainkan hanya menjadi tameng dari kepentingan sekelompok orang. Kebijakan demikian senantiasa menguntungan mereka dan merugikan masyarakat pada umumnya. Di Indonesia kasus demikian terlalu banyak untuk disebutkan, bahkan hampir semua kebijakan ekonomi selama Orde Baru sesungguhnya hanya menguntungkan segelintir orang. Tentu saja hal ini menimbulkan beban yang sangat berat bagi rakyat.

Sebenarnya semua ajaran yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul  itu untuk mensucikan mereka (al-Qur’an 62: 2), mengangkat beban dan belenggu yang di kalungkan pada mereka (al-Qur’an 7: 157). Dengan implementasi ajaran-ajaran agama  yang dibawa oleh para Nabi itu, maka  keseimbangan sosial yang merupakan salah satu bentuk keseimbangan yang berlaku di dunia (lihat al-Qur’an 55: 7-8) dapat diwujudkan. Tanpa keseimbangan, yang berarti juga tanpa keadilan, maka neraca alam semesta ini akan njomplang dan akan menimbulkan kehancuran bagi jagat raya termasuk bangsa itu. 

Sudah menjadi sunnatullah bahwa suatu bangsa yang akan mengalami kehancuran terlebih dahulu mengidap faktor-faktor yang akan menyebabkan kehancurannya. Di antara faktor-faktor kehancuran itu adalah munculnya mutrofin yaitu orang–orang kaya yang hidupnya berlebih-lebihan dan bergelimang dengan harta dan kesenangan. Mereka mengumbar nafsu syahwatnya tanpa sedikitpun mengindahkan norma-norma agama dan kebenaran. 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s