‘Illat Hukum

Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khathab. pemikiran filsafat hukum Islam semakain nyata disebabkan pleh semakin luasnya daerah yang masuk ke dalam wilayah Islam; makin berkembangnya kehidupan dan makin dirasakan meningkatnya tuntutan pelayanan rakyat dan negara. Banyak ketentuan hukum nas yang memperhatikan jiwa yang melatarbelakanginya. Maka, jika jiwa yang melatarbelakangi itu tidak dalam penerapannya pada suatu saat dan keadaan tertentu, ketentuan hukum yang disebutkan dalam nas tidak bisa dilaksanakan.

Yang dimaksud dengan jiwa yang melatarbelakangi sesuatu ketentuan hukum disebut Illat Hukum atau kausa hukum. misalnya dalam surat At-Taubah 9:60 disebutkan bahwa mualaff (orang yang dilunakkan hatinya terhadap Islam) termasuk kedalam delapan golongan yang berhak menerima zakat.

Yang termasuk golongan mualaf antara lain adalah orang kafir yang amat membenci Islam yang jika diberi bagian zakat akan lunak hatinya terhadap Islam; sekurang-kurangnya tidak akan membenci, dan ada kemungkinan memeluk Islam.

Ketentuan al-quran mengenai orang mualaf itu oleh Khalifah Umar dipahamkan bahwa yang melatar belakanginya adalah keadaan lemah agama Islam pada awal sejarahnya. keadaan lemah itu pada masa Umar telah berubah, oleh kerenanya ketentuan memberikan bagian zakat kepada mualaf itu pun tidak diperlukan lagi.

Dalam keadaan Islam telah menjadi kuat, kepada orang kafir hanya ditawarkan pilihan memeluk Islam, tetap kafir tetapi hidup damai dengan umat Islam, atau tetap kafir dan tetap memusuhi Islam. Dalam hal yang terakhir umat Islam akan menghadapi dengan perlakukan yang sama. Orang kafir yang memusushi Islam akan dihadapi dengan cara yang sama dengan yang mereka lakukan.

Nilai kefilsafatan ijtihad Khalifah Umar itu ialah dalam menetapkan bahwa setiap ketentuan hukum ada illat yang melatarbelakanginya. Selama Illat Hukum masih terlibat, ketentuan hukum berlaku, sedang jika Illat hukum tidak nampak, ketentuan hukumpun tidak berlaku.

Kaidah fuqaha: “al-hukmu yaduuru ma’a ‘illatihi wujudan wa ‘adaman”

“Hukum itu berkisar/berputar bersama illatnya, baik adanya maupun ketidak adaannya”

arti kaidah tersebut ialah setiap ketentuan hukum berkaitan dengan ‘illat (kausa) yang melatarbelakanginya; jika illat ada, hukumpun ada, dan jika illat tidak ada, maka hukumpun tidak ada.  Menentukan seuatu sebagai illat hukum merupakan hal yang sangat pelik. oleh karenanya memahami jiwa seuatu hukum yang dilandasi iman yang kokoh merupakan suatu keharusan untuk dapat menunjuk illat hukum secara tepat.

Mazhab Zahiri

Mengenai adanya kaitan antara illat dan hukum, para fuqaha dari mazhab zahiri tidak dapat menerimanya sebab yang sesungguhnya mengetahui illat hukum hanyalah Allah dan rasulnya. Manusia tidak mampu mengetahuinya secara pasti. Manusia wajib taat kepada ketentuan nas mernurut apa adanya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s