Menjual Kredit Dengan Harga Kontan

Pendahululan

Jual beli dalam fiqih Islam terkadang dilakukan dengan pembayaran kontan/cash (Ba’i Naqdam) dari tangan ke tangan, dan terkadang dengan pembayaran dan penyerahan barang tertunda, hutang dengan hutang. Terkadang salah satu keduanya kontan dan yang lainnya tertunda. Kalau pembayaran kontan dan penyerahan barang tertunda, maka itu disebut jual beli as-Salm.

Kalau penyerahan barangnya langsung dan pembayarannya tertunda, itu disebut jual beli nasi’ah. Pembayaran tertunda itu sendiri terkadang dibayar belakangan dengan sekali bayar sekaligus. Terkadang dibayar dengan cicilan, yakni dibayar dengan jumlah tertentu pada waktu-waktu tertentu. Itu disebut jual beli taqsit atau kredit.. Kredit yang dimaksud di sini merupakan cara memberikan pembayaran barang dagangan.

Jual beli kredit itu hanyalah salah satu bentuk dari jual beli nasi’ah. Syariat yang suci membolehkan jual beli nasiah itu dengan pembayaran tertunda, demikian juga dengan jual beli as-Salm dengan penyerahan barang tertunda, sesuai dengan syarat-syarat yang akan dijelaskan pada kesempatan lain.

Pada asalnya jual beli kredit telah disepakati kehalalannya. Akan tetapi terkadang terjadi hal yang kontroversial dalam jual beli semacam ini, yakni bertambahnya harga dengan ganti tenggang waktu. Misalnya harga suatu barang bila dibeli secara kontan adalah seratus juta. Lalu bila dibayar dengan kredit, harganya menjadi seratus lima puluh juta.

Dalam tulisan/bagian ini dibahas sekitar dan seputar kontroversi penambahan harga dari harga kontan karena penundaan baik yang mengharamkan maupun yang membolehkan. Pada akhirnya penulis mengambil pendapat yang lebih kuat. Wallahu a’lam bishawab.

Jual Beli Kredit dalam praktek

Dr Ausaf Ahmad [1] Berkata:

Jual beli dengan kredit atau cicilan memiliki banyak istilah seperti : Sale on Installments, Deferred sale, dalam bahasa Arab dikenal Mu’ajjal or way’ Bithaman a/Ajil.

Yang bermakna secara islam dibolehkan dalam kontrak jual beli untuk penyerahan barang dimuka dengan penundaan pembayaran dilain waktu pada harga terntentu. Dalam kondisi seperti itu dibolehkan untuk menaikkan harga lebih dari harga pasar yang beralku. Banyak bank-bank Islam mempraktekan tehnik jual beli seperti ini walaupun tidak seluruhnya menggunakan praktek jual beli tersebut diatas.

Zakariya Man membuat laporan berkenaan dengan praktek jual beli kredit pada Bank Islam Malaysia sebagai berikut:

“… Bank pertama-tama menentukan kebutuhan pelanggan yang terkait dengan lamanya waktu dan cara pembayaran. Selanjutnya bank membeli asset dan menjual asset tersebut kepada pelanggan dengan harga tertentu termasuk (a) biaya asset bank yang sebenarnya (b) profit margin untuk bank bervariasi sesuai dengan nilai dan tipe proyek, khususnya dalam kasus perumahan”.

Dewan Idiologi Islam Pakistan (The Council of Islamic Ideology of Pakistan) memasukkan penjualan dengan kredit sebagai salah satu alternative pembiayaan dalam sistem perbankan bebas bunga. Walaupun demikian Dewan menyatakan :””.. system ini menyebutkan dengan sendirinya kemudahan dan juga kemungkinan keuntungan untuk bank tanpa ada risiko atau tanpa berbagi kemungkinan kerugian kecuali dalam kasus kebangkrutan atau default dari pihak pembeli. Walaupun model pembiayaan ini dipahami dibolehkan oleh syariah, tetapi tidak dianjurkan untuk dipraktekkan secara luas atau tanpa kehati-hatian karena kemungkinan disisipi kepentingan membuka pintu belakang untuk kesepakatan yang berdasarkan bunga riba”.[2]

Terlepas dari peringatan ini, teknik jual beli secara kredit sampai saat ini secara luas digunakan oleh bank-bank komersial di Pakistan. Teknik pembiayaan model ini beroperasi sebagai berikut: Nasabah mengajukan pembiayaan ke bank untuk membeli barang-barang, bahan mentah, barang dagang atau supply dll. Bank membeli barang yang diminta dan dibutuhkan nasabah dan menjual kembali kepada nasabah tersebut dengan kesepakatan harga tertentu yang akan dibayar kemudian. Harga yang disepakati termasuk biaya/harga barang itu sendiri ditambah dengan margin profit (keuntungan untuk bank). Nasabah membayar harga tersebut dengan penangguhan.[3]

Di Indonesia bidang bisnis perumahan (KPR) salah satu bentuk praktek jual beli cicilan/kredit yang dipraktekan secara luas. Perkembangan KPR Syariah yang berkembang pesat nampak dari jumlah bank syariah yang melirik prospek bisnis ini. Sedikitnya sembilan bank syariah telah dan akan ambil bagian untuk menyalurkan kredit KPR Syariah bersubsidi. Masing-masing Bank Tabungan Negara (BTN) Syariah, Bank Syariah Mandiri (BSM), PermataBank Syariah, Niaga Syariah, BII Syariah, Bank Bukopin Syariah, Bank Muamalat Indonesia (BMI), BNI syariah dan BRI Syariah.

Hukum Jual Beli Nasi’ah (berhutang terlebih dahulu)

Para ulama telah bersepakat tentang dibolehkannya jual beli nasiah karena banyaknya hadits-hadits yang tegas yang diriwayatkan tentang jual beli itu. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim serta para perawi lainnya bahwa Rasulullah pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan pembayaran ter-tunda. Beliau memberikan baju besinya sebagai jaminan. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab al-Buyu’, bab: Nabi Membeli dengan Pembayaran Tertunda, nomor 2068, 2069, dan bab: Membeli Makan dengan Pembayaran Tertunda 2200. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab al-Musqat, bab: Penggadaian dan Pembolehannya, nomor 1063.)

Dibolehkannya jual beli nasi’ah berarti juga dibolehkan jual beli secara kredit. Karena jual beli kredit tidak lain adalah jual beli dengan pembayaran tertunda, hanya pembayarannya yang dicicil selama beberapa kali dalam waktu-waktu tertentu. Tidak ada perbedaan dalam hukum syariat terhadap jual beli dengan pembayaran tertunda dalam satu waktu atau pada beberapa waktu berbeda.

Syubhat Golongan Yang Melarang

Dalam mengharamkan jual beli ini (kredit dengan harga lebih besar) mereka beralasan bahwa tambahan tersebut sebagai padanan dari pertambahan waktu. Mengambil keuntungan tambahan dari pertambahan waktu termasuk riba.

Jual beli dengan sistem kredit (cicilan), yang ada di masyarakat digolongkan menjadi dua jenis:
Jenis pertama, kredit dengan bunga. Ini hukumnya haram dan tidak ada keraguan dalam hal keharamannya, karena jelas-jelas mengandung riba.
Jenis kedua, kredit tanpa bunga. Para fuqaha mengistilahkan kredit jenis ini dengan Bai’ At Taqsiith. Sistem jual beli dengan Bai’ At Taqsiith ini telah dikaji sejumlah ulama, di antaranya:

As-Syaikh Nashirudin Al Albani [4]
Beliau menyebutkan adanya tiga pendapat di kalangan para ulama. Yang rajih (kuat) adalah pendapat yang tidak memperbolehkan menjual dengan kredit apabila harganya berbeda dengan harga kontan (yaitu lebih mahal, red). Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih dari Abi Hurairah yang diriwayatkan oleh An Nasa’i dan At Tirmidzi bahwa Rasulullah melarang transaksi jual beli (dengan 2 harga) dalam satu transaksi jual beli.

As Syaikh Al Albani menjelaskan, maksud larangan dalam hadits tersebut adalah larangan adanya dua harga dalam satu transaksi jual beli, seperti perkataan seorang penjual kepada pembeli: Jika kamu membeli dengan kontan maka harganya sekian, dan apabila kredit maka harganya sekian (yakni lebih tinggi).

Hal ini sebagaimana ditafsirkan oleh Simaak bin Harb dalam As Sunnah (karya Muhammad bin Nashr Al Marwazi), Ibnu Sirin dalam Mushonnaf Abdir Rozaq jilid 8 hal. 137 no. 14630, Thoowush dalam Mushonnaf Abdir Rozaq jilid 8 no. 14631, Ats Tsauri dalam Mushonnaf Abdir Rozaq jilid 8 no. 14632, Al Auza’i sebagaimana disebutkan oleh Al Khaththaabi dalam Ma’alim As Sunan jilid 5 hal. 99, An Nasa’i, Ibnu Hibban dalam Shahih Ibni Hibban jilid 7 hal. 225, dan Ibnul Atsir dalam Ghariibul Hadits.

Demikian pula dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah[i] dalam Al Mushonnaf, Al Hakim dan Al Baihaqi, dari Abi Hurairah, bahwasanya bersabda:rRasulullah
“Barangsiapa yang menjual dengan 2 harga dalam 1 transaksi jual beli, maka baginya harga yang lebih murah dari 2 harga tersebut, atau (jika tidak) riba.”

Misalnya seseorang menjual dengan harga kontan Rp 100.000,00, dan kredit dengan harga Rp 120.000,00. Maka ia harus menjual dengan harga Rp 100.000,00. Jika tidak, maka ia telah melakukan riba.


As-Syaikh Muqbil bin Hadi Al Waadi’i

Dalam kitabnya Ijaabatus Saailin hal. 632 pertanyaan no. 376, beliau menjelaskan bahwa hukum jual beli seperti tersebut di atas adalah dilarang, karena mengandung unsur riba. Dan beliau menasehatkan kepada setiap muslim untuk menghindari cara jual beli seperti ini.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih dari Abi Hurairah yang diriwayatkan oleh An Nasa’i dan At Tirmidzi, bahwa Rasulullah melarang transaksi jual beli (2 harga) dalam satu transaksi jual beli.

Namun beliau menganggap lemahnya hadits Abu Hurairah sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah[5] dalam Al Mushonnaf, Al Hakim dan Al Baihaqi, dari Abi Hurairah, bahwasanya Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa yang menjual dengan 2 harga dalam 1 transaksi jual beli, maka baginya harga yang lebih murah dari 2 harga tersebut, atau (jika tidak) riba.”

Hal ini sebagaimana disebutkan beliau dalam kitabnya Ahaadiitsu Mu’allah Dzoohiruha As Shahihah, hadits no.369.

Dalam perkara jual beli kredit ini, kami nukilkan nasehat As-Syaikh Al Albani:
“Ketahuilah wahai saudaraku muslimin, bahwa cara jual beli yang seperti ini yang telah banyak tersebar di kalangan pedagang di masa kita ini, yaitu jual beli At Taqsiith (kredit), dengan mengambil tambahan harga dibandingkan dengan harga kontan, adalah cara jual beli yang tidak disyari’atkan. Di samping mengandung unsur riba, cara seperti ini juga bertentangan dengan ruh Islam, di mana Islam didirikan atas pemberian kemudahan atas umat manusia, dan kasih sayang terhadap mereka serta meringankan beban mereka, sebagaimana sabda yang diriwayatkan Al Imam Al Bukhari : Rasulullah bersabda:
“Allah merahmati seorang hamba yang suka memberi kemudahan ketika menjual dan ketika membeli…”

Dan kalau seandainya salah satu dari mereka mau bertakwa kepada Allah, menjual dengan cara kredit dengan harga yang sama sebagaimana harga kontan, maka hal itu lebih menguntungkan baginya, juga dari sisi keuntungan materi. Karena dengan itu menyebabkan sukanya orang membeli darinya, dan diberkahinya oleh Allah pada rejekinya, sebagaimana firman Allah:

… Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir. Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki-Nya). Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Ath Thalaq: 2-3)

Golongan Yang Membolehkan

Dr Ashadiq Abdurrahman Al-gharyani [6]

Dalam kumpulan fatwanya beliau menjawab pertanyaan apabila jual beli secara kredit dengan menambahkan atau melebihkan harga kredit dari harga kontan, ”Jual beli secara kredit boleh saja dilakukan sekalipun dengan harga yang lebih tinggi dari harga kontan; karena penundaan pembayaran termasuk harga [7]”.

Syaikh Bin Baaz [8]

Jual beli sampai batas tertentu diperbolehkan apabila jual beli tersebut terpenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan oleh syariah. Demikian pula halnya dengan jual beli sistem cicilan harga apabila cicilannya jelas dan batas waktunyapun jelas, berdasarkan firman Allah swt:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (Al-Baqarah: 282).

Dan berdasarkan sabda Rasulullah saw:

Barangsiapa yang menghutangkan sesuatu maka hendaklah ia menghutangkannya dalam takaran yang jelas, timbangan yang jelas dan sampai batas waktu yang jelas”.

Juga berdasarkan kisah Burairah bin ats-Tsabit ra. Yang tertera pada Shahihaini bahwa ia membeli dari tuannya dengan harga sembilan auqiyah (1 auqiyah=12 dirham atau 28 gram). Ia membayar setiap tahun satu auqiyah. Inilah yang dinamakan jual beli at-taqshith (cicilan) dan nabi saw tidak melarangnya, bahkan beliau menyutujuinya. Dalam hal tersebut tidak ada beda antara harga yang sepadan dan harga barang yang sama seandainya dijual dengan harga kontan atau ditambah dari harga kontan karena sebab ditunda waktu pembayaran.

Dr Yusuf Qardhawi [9]

Shaikh Yusuf Qardhawi dalam bukunya Halal dan Haram Dalam Islam halaman 393 dalam Bab IV Bagian Muamalah dalam Judul: Menjual Kredit (Penangguhan) dengan Menaikkan Harga, beliau berkata:

Termasuk yang perlu untuk disebutkan di sini, yaitu sebagaimana diperkenankan seorang muslim membeli secara kontan, maka begitu juga dia diperkenankan menangguhkan pembayarannya itu sampai pada batas tertentu, sesuai dengan perjanjian1.

Rasulullah s.a.w. sendiri pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan tempo, untuk nafkah keluarganya. Begitu juga beliau pernah menggadaikan baju besinya kepada orang Yahudi.[10]

Sekarang apabila si penjual itu menaikkan harga karena temponya, sebagaimana yang kini biasa dilakukan oleh para pedagang yang menjual dengan kredit, maka sementara fuqaha’ ada yang mengharamkannya dengan dasar, bahwa tambahan harga itu justru berhubung masalah waktu. Kalau begitu sama dengan riba.

Tetapi jumhurul ulama membolehkan, karena pada asalnya boleh, dan nas yang mengharamkannya tidak ada; dan tidak bisa dipersamakan dengan riba dari segi manapun. Oleh karena itu seorang pedagang boleh menaikkan harga menurut yang pantas, selama tidak sampai kepada batas pemerkosaan dan kezaliman. Kalau sampai terjadi demikian, maka jelas hukumnya haram.

Imam Syaukani berkata: “Ulama Syafi’iyah, Hanafiyah, Zaid bin Ali, al-Muayyid billah dan Jumhur berpendapat boleh berdasar umumnya dalil yang menetapkan boleh. Dan inilah yang kiranya lebih tepat.[11]

Islamic Fiqh Academy Jeddah [12]

The Council of the Islamic Fiqh Academy (Majelis Ulama Fiqih), dalam muktamar-nya yang keenam di Jeddah , Kingdom of Saudi Arabia, dari 17 sampai 23 Sha’ban 1410H (14 – 20 March, 1990) dalam Resolusi no 56/2/6) menyatakan sebagai berikut

Pertama:”Dibolehkannya tambahan harga kredit dari harga kontan. Juga dibolehkan menyebutkan harga kontan dengan harga kreditnya disertai dengan waktu-waktu penyicilannya. Jual beli dianggap tidak sah sebelum kedua transaktornya menegaskan mana yang mereka pilih, kontan atau kredit. Kalau jual beli itu dilakukan dengan keragu-raguan antara kontan dengan kredit, misalnya belum terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak, maka jual beli itu tidak sah secara syar’i.

Kedua: Menurut ajaran syariat, ketika terjadi proses jual beli ini tidak boleh menegaskan keuntungan kredit secara rinci secara terpisah dari harga kontan, sehingga ada keterikatan dengan jangka waktu. Baik kedua pelaku jual beli itu menyepakati prosentase keuntungan tertentu, atau tergantung dengan jumlah penambahan waktu saja.

Ketiga: Kalau pembeli sekaligus orang yang berhutang terlambat membayar cicilannya sesuai dengan waktu yang ditentukan, tidak boleh memaksa dia membayar tambahan lain dari jumlah hutang-nya, dengan persyaratan yang disebut dalam akadnya ataupun tidak. Karena itu adalah bentuk riba yang diharamkan.

Keempat: Orang yang berhutang padahal mampu membayar tidak boleh dia memperlambat pembayaran hutangnya yang sudah tiba waktu cicilannya. Meski demikian, juga tidak boleh memberi per-syaratan adanya kompensasi atau sanksi denda bila terjadi keterambatan pembayaran.

Kelima: Menurut syariat dibolehkan seorang penjual meminta penyegeraan pembayaran cicilan dari waktu yang ditentukan, ketika orang yang berhutang pernah terlambat dalam membayar cicilan sebelumnya, selama orang yang berhutang itu rela dengan syarat tersebut ketika terjadi transaksi.

Keenam:Penjual tidak boleh menyimpan barang milik pembeli setelah terjadi proses jual beli kredit ini. Namun ia bisa meminta syarat untuk sementara barang itu digadaikan di tempatnya sebagai jaminan hingga ia melunasi hutang cicilannya.

Hukum Jual Beli Kredit

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa pada asalnya jual beli kredit telah disepakati kehalalannya. Akan tetapi terkadang terjadi hal yang kontroversial dalam jual beli semacam ini, yakni bertambahnya harga dengan ganti tenggang waktu. Misalnya harga suatu barang bila dibeli secara kontan adalah seratus juneih. Lalu bila dibayar dengan kredit, harganya menjadi seratus lima puluh juneih.

Prof. Dr. Abdullah al-Mushlih dan Prof. Dr. Shalah ash-Shawi berkata: Pendapat yang benar dari para ulama adalah dibolehkannya bentuk jual beli kredit semacam ini, berdasarkan alasan-alasan berikut:

Keumuman dalil yang menetapkan dibolehkannya jual beli semacam ini. Penjualan kredit hanyalah salah satu dari jenis jual beli yang disyariatkan tersebut (jual beli nasi’ah).

Para ulama yang melarangnya tidak memberikan alasan yang mengalihkan hukum jual beli ini menjadi haram.

Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (Al-Baqarah: 282).

Ayat tersebut secara umum juga meliputi penjualan barang dengan pembayaran tertunda, yakni jual beli nasi’ah. Ayat ini juga meliputi hukum menjual barang yang berada dalam kepemilikian namun dengan penyerahan tertunda, yakni jual beli as-Salm. Karena dalam jual beli as-Salm juga bisa dikurangi harga karena penyerahan barang yang tertunda, maka dalam jual beli nasi’ah juga boleh dilebihkan harganya karena pembayarannya yang tertunda

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda[ii]:

“Emas boleh dijual dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jewawut dengan jewawut, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam, asal sama ukuran atau takarannya, diserahterimakan dan dibayar secara langsung. Kalau jenis yang satu dijual dengan jenis yang lain, silahkan kalian menjual sekehendak kalian, namun harus tetap dengan kontan.” (Diriwayatkan oleh Muslim kitab al-Musaqat, bab: Money Changer, dan Barter Emas dengan Perak Secara Kontan, nomor 158)

Dalam hadits ini ada indikasi terhadap beberapa hal berikut:
Apabila emas dijual dengan emas, gandum dijual dengan gandum, disyaratkan harus ada kesamaan ukuran atau takaran dan langsung diserahterimakan (asal sama ukuran atau takaran-nya, diserahterimakan dan dibayar secara langsung). Maka diha-ramkan adanya kelebihan berat atau takaran salah satu barang yang ditukar, dan juga diharamkan pembayaran tertunda.

Namun kalau emas ditukar dengan perak, atau kurma dengan jewawut, hanya disyaratkan serahterima dan pembayaran langsung saja, namun tidak disyaratkan harus sama ukuran mau-pun takarannya. Dibolehkan ketidaksamaan ukuran dan takaran, karena perbedaan jenis, namun tetap diharamkan penangguhan penyerahan barang dan pembayarannya.

Apabila emas ditukar atau dijual dengan gandum, atau perak dengan kurma, boleh tidak sama ukuran/takarannya dan boleh juga ditangguhkan penyerahan kompensasi dan pembayarannya. Karena dibolehkannya kelebihan salah satu barang tersebut oleh perbedaan jenis, juga disebabkan oleh perbedaan waktu.

Penjualan emas dengan emas ada kesamaan, sehingga tidak bisa diberlakukan jual beli nasiah,yakni dengan sistem penyerahan barang tertunda, karena penundaan itu bisa menghilangkan kesamaan tersebut. Namun syarat itu tidak berlaku pada penjualan emas dengan gandum misalnya. Oleh sebab itu boleh ada kelebihan salah satu barang yang dipertukarkan, baik karena perbedaan kualitas, bisa juga karena perbedaan waktu.

Penambahan harga kredit dari kontan

Tambahan harga kredit dari harga kontan disebut sebagai riba oleh kalangan yang mengharamkan jual beli kredit dengan tambahan harga, alasan ini bisa dibantah, bahwa tambahan tersebut tidak bisa digolongkan sebagai riba yang diharamkan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Bahwasanya semua komoditi riba fadhal yang enam bila dijual dengan yang sejenis, maka diharamkan sebagai riba karena kelebihan salah satu barang transaksinya dan karena penundaan serah terima (emas dengan emas atau dolar dengan dolar). Dan kalau sesuatu itu dijual atau dibarter dengan jenis lain namun memiliki kesamaan ‘illah/ alasan hukum (emas dengan perak, dolar dengan juneih), boleh dilebihkan salah satunya, namun tidak boleh dilakukan dan serah terima tertunda. Dan apabila yang dibarter adalah barang dengan yang tidak sejenis dan tidak sama ‘illat-nya (emas dengan gandum atau dolar dengan kurma) boleh dilebihkan salah satunya dan juga dibo-lehkan serah terima tertunda. Yakni dibolehkan perbedaan harga karena perbedaan jenis, dan dibolehkan perbedaan harga karena penangguhan serah terima.

Syaikh Yusuf Qardhawi:” Jumhurul ulama membolehkan, karena pada asalnya boleh, dan nas yang mengharamkannya tidak ada; dan tidak bisa dipersamakan dengan riba dari segi manapun. Oleh karena itu seorang pedagang boleh menaikkan harga menurut yang pantas, selama tidak sampai kepada batas pemerkosaan dan kezaliman. Kalau sampai terjadi demikian, maka jelas hukumnya haram”[13].

The Council of the Islamic Fiqh Academy (Dewan Akademi Fikih Islam), dalam muktamarnya yang ke lima di Kuwait-City (State of Kuwait), dari tanggal 1 sampai 6 Jumada al-Oula 1409 H (10 sampai 15 Desember 1988) tidak membatasi persentasi margin keuntungan tetapi tetap harus memperhatikan etika yang direkomendasikan syariah[14].


Mereka yang mengharamkan juga beralasan dengan nash-nash umum yang mengharamkan riba, bahwa jual beli ini juga tergolong riba. Namun keumuman nash ini dikonfrontasikan dengan nash-nash umum lain yang menghalalkan jual beli secara kontan dan tertunda pembayaran atau serah terima barangnya. Dan jual beli ini juga termasuk di antaranya.

Dua Perjanjian dalam satu Aktivitas
Mereka (yang mengharamkan jual beli kredit dengan tambahan harga dari kontan) juga beralasan dengan riwayat larangan melakukan dua perjanjian dalam satu aktivitas jual beli, sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :
“Barangsiapa yang melakukan dua perjanjian dalam satu transaksi jual beli, maka ia harus mengambil keuntungan terendah, bila tidak berarti ia melakukan riba.”
[15]

Prof. Dr. Abdullah al-Mushlih dan Prof. Dr. Shalah ash-Shawi berpendapat:

Alasan ini dapat dibantah kalau pun dimisalkan hadits ini shahih, maka dua perjanjian dalam satu aktivitas jual beli itu ditafsirkan sebagai jual beli ‘inah, bukan jual beli dengan pembayaran tertunda semacam ini. Maksudnya (‘inah) adalah membeli barang untuk dibayar tertunda, kemudian mengembalikan barang itu kepada penjual dan menjualnya dengan harga lebih murah secara kontan. Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah jual beli manipulatif sebagai riba tersembunyi dengan cara yang menyamarkannya, di mana barang dagangan hanya dijadikan sebagai mediator kosong saja, untuk melegalitas peminjaman uang berbunga.

Ada juga yang berpendapat bahwa arti dua transaksi dalam satu jual beli itu adalah terjadinya dua jual beli pada satu barang transaksi. Caranya adalah dengan memberikan pinjaman uang satu dinar untuk membeli satu kilo gandum misalnya dan dibayar tiga bulan kemudian. Bila sudah datang waktu pembayarannya, si penjual itu berkata, “Juallah kepadaku gandum milikmu itu dengan lima ratus kilo dalam jangka enam bulan,” misalnya. Ini adalah jual beli kedua yang masuk dalam jual beli pertama. Ada juga yang berpendapat bahwa artinya adalah seseorang yang mengatakan, “Kamu jual kepadaku barang ini dengan syarat engkau juga menjual rumahmu kepadaku.” Ini adalah penafsiran Imam asy-Syafi’i. Ada juga yang berpendapat bahwa artinya adalah bila seseorang berkata, “Saya jual barang ini kepadamu secara kontan dengan harga sepuluh juta, dan dengan harga lima belas juta bila dibayar dalam jangka setahun.” Lalu si pembeli mengambil barang itu tanpa menentukan harga mana dengan jangka waktu yang mana yang dia pilih. Ini adalah penafsiran Malik dan salah satu pendapat asy-Syafi’i. Alasan dilarangnya jual beli ini adalah adanya manipulasi yang muncul dari ketidaktahuan ukuran harga yang sesungguhnya.

Yang perlu diingatkan di sini bahwa apabila pembeli terlambat membayar cicilan kredit, tidak dibolehkan bagi penjual untuk memberikan denda keuangan sebagai kompensasi keter-lambatannya. Namun ia berhak untuk menuntut pembayaran sisa cicilan ketika terjadi ketidakmampuan membayar, bila itu termasuk dalam akad kreditnya.


[1] Dr Ausaf Ahmad, “Contemporary Practices of Islamic Financing Techniques”, Islamic Development Bank (IDB).

[2] Council of Islamic Ideology, “Report on Elimination of Interest From

the Economy”, in Ziauddin Ahmad et.al. (eds.), Money and wanking

in Islam, Institute of Policy Studies, Islamabad, 1983

[3] Ausaf Ahmad, op. cit., p. 20.

 

[4] Dalam kitab As-Shahihah jilid 5, terbitan Maktabah Al Ma’arif Riyadh, hadits no. 2326 tentang “Jual Beli dengan Kredit”

[5] Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf, Al Hakim dan Al Baihaqi, dari Abi Hurairah, bahwasanya Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa yang menjual dengan 2 harga dalam 1 transaksi jual beli, maka baginya harga yang lebih murah dari 2 harga tersebut, atau (jika tidak) riba.”

[6] Fatawa Muamalah Asy-Syari’ah. Terjemaah Bahasa Indonesia: Fatwa-fatwa Muamalah Konteporer. Pustaka Progresif Surabaya. 2004.

[7] Asy-syarh al-Kabir, 3:58.

[8] Al-Lajnah Ad-Daimah, Fatawa At-Tujjar wa Rijaali Al-A’mal , “Fatwa-Fatwa Perdagangan”, Edisi Indonesia, At-Tibyan-Solo.

[9] Dr.Yusuf Qardhawi, Al-Halal wa Al-Haraam Fiil Islam. Terjemah Bahasa Indonesia. Halal dan Haram Dalam Islam. International Islamic Federation of Student Organizations (IIFSO). Darul Al-Quranul Al-Karim, Libanon.1980.

[10] Shahih Bukhari

[11] N. Authar 5:153

[12] “Sales On Installments”, Resolutions And Recommendations Of The Council Of The Islamic Fiqh Academy 1985-2000.

 

[13] Dr.Yusuf Qardhawi, Al-Halal wa Al-Haraam Fiil Islam. Terjemah Bahasa Indonesia. Halal dan Haram Dalam Islam. International Islamic Federation of Student Organizations (IIFSO). Darul Al-Quranul Al-Karim, Libanon.1980

[14] The Council of the Islamic Fiqh Academy, holding its Fifth session, in Kuwait-City (State of Kuwait), from 1st to 6th Jumada al-Oula 1409 H (10 to 15 December 1988)

[15] “Barangsiapa yang melakukan dua perjanjian dalam satu transaksi jual beli, maka ia harus mengambil keuntungan terendah, bila tidak berarti ia melakukan riba.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud 2461. Diriwayatkan juga oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya 4974. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi 1231. Diriwayatkan oleh an-Nasai VII: 296. Diriwayatkan juga oleh al-Hakim II: 45, dinyatakan shahih oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim.)


[i] hadits yang diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf, Al Hakim dan Al Baihaqi, dari Abi Hurairah, bahwasanya bersabda:rRasulullah
“Barangsiapa yang menjual dengan 2 harga dalam 1 transaksi jual beli, maka baginya harga yang lebih murah dari 2 harga tersebut, atau (jika tidak) riba.”

[ii] “Emas boleh dijual dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jewawut dengan jewawut, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam, asal sama ukuran atau takarannya, diserahterimakan dan dibayar secara langsung. Kalau jenis yang satu dijual dengan jenis yang lain, silahkan kalian menjual sekehendak kalian, namun harus tetap dengan kontan.” (Diriwayatkan oleh Muslim kitab al-Musaqat, bab: Money Changer, dan Barter Emas dengan Perak Secara Kontan, nomor 158)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s